Monday, January 13, 2014


Tuhan Maha Adil. Menciptakan segala jenis makhluk berpasang-pasangan, membagi porsi rizki mereka sesuai dengan kadar dan kehendak-Nya. Atau bahkan memberi mereka “sedikit” sentilan kecil dalam menjalani kehidupan, untuk dapat dapat dijadikan cerita terlebih pelajaran yang terkandung didalamnya. Dan hari ini, Tuhan merencanakan kisah yang sedikit agak menohok, ashamed  dan mengandung pelajaran bagi mereka yang mau berfikir. Peristiwa ini aku alami bersama teman satu kontrakanku. Aku yakin, kejadian ini adalah salah satu dari kisah “manis” yang kami alami selama empat tahun hidup di tanah rantau, Yogyakarta. Tak terlupakan. Dramatis.

Bermula disuatu siang hari ini, tertanggal 13 Januari 2014 bertempat dijalan Maguwo deket situs sejarah Bantengan Yogyakarta. Sebut saja mereka adalah Iwan dan Sultan dua sekawan plus sekamar  yang mengendarai sepeda motor  “antik” Honda Astuti. Si Iwan mengendarai motor dan Sultan boncengan. Ceritanya mereka mau perbaiki tas di tukang jahit tas. Setelah mengikuti English class  dikampus, mereka langsung ke tempat tukang jahit yang berjarak sekitar 150m dari kampus. Ditengah perjalanan, Sultan yang bertugas membawa tas yang akan dijahit terlalu memegang agak kebawah mendekati roda. Apesnya, motor Astuti klasik itu dibuat ceper sama si Iwan. Pendek. Alhasil tali tas tersebut mengenai rantai dan melilit diputaran rantai sepeda motornya. Awalnya cuma sebagaian kecil, tapi  karna motor terus melaju, yaa akhirnya sebagian besar tas masuk kedalam putaran rantai. Awalnya, si sultan ga nyadar, lama kelamaan tas  yang dia pegang semakin tertarik ke bagian bawah. Dan olalaaa, motor itu kelihatan seperti memakan tas.

Penampakan Tas yang dimakan Motor
Ditengah kekalutannya,  Aku dan Bang Andi (temen sekontrakan juga) melalui jalan yang mereka lewati, dan plaaak, Tuhan menakdirkan kami bertemu dipinggir jalan untuk menjadi pahlawan bagi mereka (apaan sih?). Bukan suatu kebetulan, sebenarnya kami cuma mau beli makan siang disalah satu warung Padang dan arahnya itu sama dengan tujuan mereka. Dan Astagaaa…. Aku melihat badan tas itu remuk ditelan gilingan rantai sepeda motor. Jika tas itu adalah makhluk hidup hampir dapat dipastikan ia akan menemui ajalnya saat itu juga.

Merasa kasihan melihat wajah Iwan dan Sultan yang memelas, kami membantu mereka mengurangi beban yang mereka pikul. Iwan meminjam cutter di salah satu toko dekat tempat kami  berhenti. Dia memotong tas yang sudah berpadu mesra dengan lilitan rantai. Satu persatu bagian tas dipotong tapi itu tak membantu banyak karna sebagian besar tas masuk melilit bagian dalam rantai. Mengenaskan.

Sekitar sepuluh menit kami berjibaku tak tampak hasilnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari bengkel motor terdekat. Ketemu, bengkel hanya berjarak 40m dari lokasi kami berhenti. Cerita lain muncul. Kondisi tas yang sudah “menyatu” dengan rantai membuat roda motor tidak dapat digerakkan. Alhasil motor ga bisa jalan. Terpaksa kami harus mengangkat motor itu menuju bengkel, dan itu harus melewati perempatan Maguwo yang padat plus ramai. Well, mengangkat di tengah siang yang terik bukanlah perkara mudah, belum lagi diliat sama orang-orang sekitar. Dengan menanggung malu yang sangat besar, kami menabahkan diri. Diangkatlah motor itu menuju bengkel diiringi tatapan kocak orang yang berlalu-lalang. Sayangnya aku ga sempat fotoin action angkat motor ini.

Fiuhh, sampai dibengkel. Honda Klasik “Astuti”, si korban, harus menunggu nomer antri diurutan ke empat. Merasa ga sabaran, Iwan mencoba untuk memperbaikinya sendiri. Satu persatu bagian tas dirobek, kami membantu. Peristiwa memilukan akhirnya terjadi. Iwan meminta bantuan sama Aku dan sultan untuk mengangkat motor. Aku mencoba mengangkat bagian belakang motor dengan berpegang pada bagian bawah tempat duduk, biar roda dapat diputar,  sedang sultan menahan bagian depan motor. Satu.. duaa… tigaa… huuuppp… motor terangkat, Iwan memutar roda dan mengeluarkan sebagian kecil lilitan tas dirantai. Lumayan, tas sedikit terbebas dari cengkraman rantai namun masih menyisakan banyak. Sedikit lagi putaran, tas itu pasti akan benar-benar bebas. Ternyata tak perlu menunggu montir bengkel untuk menyelesaikannya. Kami tersenyum bahagia.

Aku bertukar tempat, memegang bagian belakang lampu motor. Kami bersiap untuk mengangkat. Satu… duaa… tigaaa… sepuluh detik pertama motor itu terangkat, iwan berhasil mengeluarkan sisa-sisa potongan tas yang termutilasi dengan memutar roda. Rantai itu akhirnya bersih meski agak sedikit longgar.  Di detik ke sebelas saat aku masih menahan motor, pelindung lampu yang terbuat dari plastik tiba-tiba berbunyi  kkrraaakkk,  lampu motor antik itu patah karna tak kuat menahan beban. Bohlamnya tercerabut paksa. Aku didera rasa bersalah juga panik. Orang-orang seantero bengkel freeze. Iwan menganga, Sultan terpana. Dramatis.


Oh my God. Aku membeku. Iwan terduduk lesu. Sultan mengambil beberapa patahan lampu. Montir bengkelnya tersenyum menenangkan sambil berkata “ udaah, biar saya aja yang perbaiki, Mas”.

Thursday, January 9, 2014


Bulan itu bernama Januari.

Apa yang istimewa? Tak ada! Ia tak lebih dari hanya sekedar bulan. Sudah beberapa kali Mas Sholli, ketua FLP Jogja dan Mas Taufiq dari bidang kaderisasi memperingatkan, tulisan yang akan dibuat bukan hanya  catatan harian, sekedar menyenangkan diri sendiri, menghiasi hari dengan cerita pribadi. Setidaknya kita bisa menulis lebih dari itu,  menulis sesuatu yang lebih bernilai, sesuatu yang mempunyai bobot, hal yang dapat menginspirasi, sesuatu yang layak untuk dibagi dan rentetan layak lainnya yang bermuara pada satu kesimpulan “Kamu adalah PENULIS !”.

Lantas, apa kaitannya antara menulis sesuatu yang berbobot dan mempunyai nilai dengan bulan Januari? Aaah, seperti ujung  batang magnet utara dan selatan yan tak pernah nyambung (bertemu  lebih tepatnya). Sudahlah. Dalam rentang waktu sebulan aku meihat banyak sekali dari temanku menulis sesuatu yang berbobot itu. Bahkan tulisan mereka dimuat disalah satu website. Gencar sekali mereka menulis. Sedangkan aku, masih melongo menatap pesimis pada diri sendiri dan bertanya dalam hati “Kapan mulai menulis?”. Stupid question, isn’t it?

Aku mengenali diriku sendiri masih terlalu sombong, menggantung mimpi dan espektasi yang terlalu tinggi, bagus sih, tapi hakikatnya tak pernah ada aksi. Aku masih dilambungkan dengan rasa kepercayaan diri yang memuncak, bahwa kelak aku akan menjadi penulis dan menerbitkan novel. Lihat, itu adalah kalimat yang ku gaungkan semenjak aku duduk di kelas X SMA lalu, It was seven years ago  dan sampai sekarang pun masih hanya sekedar kalimat motivasi usang. Kapan akan dibuktikan?

Aku masih terlalu sombong, ingin lantas melejit. Membuat karya yang mencapai  masterpiece. Tapi, enggan melalui proses. Berkhayal menulis sesuatu cerita yang kolosal. Tapi, memadu kata untuk kisah sehari-hari saja payah. Menata diksi dengan runyam, berlagak profesor sastra, menggantungkan makna, menyimpan sendiri arti, lantas untuk apa berbagi? Aah, orang lain maju selangkah didepanku, tak peduli mereka menulis, menulis dan menulis. Aku?? Tak henti merutuki diri sendiri, kenapa pada saat seperti ini harus menulis?

Dari dulu tak henti bergegas. Penulis selalu punya waktu tersendiri untuk menulis. Bukan menunggu ide yang tepat lantas akhirnya lupa, tak siap, tak pernah men-jadi tulisan.

Ini januari bukan? apa kaitannya dengan tulisanku? Aku bahkan tak berani memasang target apapun untuk tulisan, kecuali skripsiku. Itu pun dengan rasa yang teramat malas untuk dikerjakan. MALAS, aku mendapatkan point karena menyadari kelemahan itu.

Dan, lihatlah. Tulisan ini tak lebih dari hanya sekedar curhat, apa bobotnya? Apa yang dapat dibagi? Aah, ini Januari dan aku masih seperti ini. Akan mulai MENULIS ketika merutuki diri sendiri.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!