Saturday, October 19, 2013


Ini, entah kali keberapa aku dirasuki virus “galau” nulis. Pengen deh rasanya mencak-mencak (baca : gregetan ga jelas) kalo baca tulisan-tulisan orang diblog, milis, catatan FB, ocehan twitter, kulit hewan, tulang belulang, kain kafan (apaan coba?).  Tapi yaa, gitu laah, saya (penulis) Cuma bisa mencak-mencak aja  sambil pukul-pukul bantal yang ga bersalah sama sekali. Ini entah sudah kali keberapa aku dirasuki virus “galau” menulis.


Padahal yaa, kalo difikir-fikir nulis Cuma butuh waktu, pengamatan, sama KEMAUAN DARI DIRI SENDIRI (ini nih yang paling penting). Dulunya aku rajin banget nulis tapi masih dalam bentuk puisi. Start awal pertama kali itu pas abis bencana Tsunami, secara tidak sengaja aku membaca puisi saudara yang juga temen aku namanya Dhica, dia korban Tsunami.

Kita flashback dikit ke dimensi waktu Sembilan tahun yang lalu, sekitar pertengahan 2005 saat aku masih di bangku SMP. Waktu itu setelah bencana Tsunami, Dhica yang kehilangan kedua orang tuanya plus adik bungsunya karna Tragedi itu di asuh sama kakek dan neneknya yang tinggal tetanggaan di desa tempat aku tinggal. Kebetulan, dia dimasukkan ke sekolah dan kelas yang sama dengan ku.

Kejadian itu bermula sesaat setelah pelajaran matematika yang di asuh oleh Ibu Susi selesai. Aku meminjam buku catatannya untuk menyalin beberapa materi matematika yang ga sempat tertulis. Nah, kebiasaan aku dan temen-temenku waktu SMP adalah suka mengobrak abrik catatan orang. Setelah selesai menyalin, aku membolak-balik lembar demi lembar halaman catatannya Dhica, ketika sampai dipertengahan lekukan buku, aku menemukan secarik puisi disana, juga dilembar-lembar selanjutnya setelah halaman pertengahan itu. Aku mulai membaca,  menyelami diksi demi diksi yang diteriakkannya. Aku tertegun, bahkan hampir menangis. Aku yakin ia menuliskannya  dengan tetesan air mata, tiap lekuk aksara yang tertulis adalah jerit perih kerinduannya pada kedua orang tuanya. Yaa, hampir seluruh puisi yang tertulis dibuku itu bercerita tentang kejadian yang “menggetarkan” minggu 26 desember itu. Ia juga menuliskan sajak ketegaran diri, yang terbaca dari tekanan pena nya, hurufnya mencetak bekas yang  timbul dihalaman belakang selanjutnya.

Semenjak kejadian itu, Dhica dengan puisinya, mampu menyentak syaraf-syaraf “sastra” yang bergumul penuh difikiranku. Aku memandangnya kagum, dia yang saat itu masih berumur 13 tahun harus memikul kisah yang memilukan itu. Aku yakin, ada banyak Dhica-Dhica yang lain diluar sana, tapi Tuhan menakdirkan aku untuk mengenalnya bahkan semenjak kami masih bayi, dan menyentakkan sedikit kemampuan untukku memadu kata-kata. Yaa, aku suka menulis puisi karena dia. Maka, kubuatkan satu buku khusus untuk tulisan berbait-bait itu agar dapat ku baca nantinya, hanya satu buku tulis biasa bergambar Blue Duck sejumlah enam puluh lembar. 

Tiada hari aku lewatkan tanpa menuliskan kata-kata dibuku itu, seperti sudah menjadi semacam diary bagiku, aku menulisnya setiap hari, setiap hari. Imajinasiku mulai menjalar bebas, aku bisa mengekspresikan kejadian apa saja di puisiku. Aku mencuri perasaan teman-temanku yang putus asa, putus cinta, galau, bahkan kelaparan untuk ku jadikan nyawa dalam puisiku. Aku menyelami gerakan lembut awan, helaan lembut angin, anggukan anggun bebunga, dan apa yang ku dapat dari kecapan semua panca indraku. Aku menuliskannya sebagai nyawa, maka jika sehari saja aku tak menulis, jasad terasa seperti mati.

Tapi itu dimensi Sembilan tahun silam. Aku tak tahu kebiasaan apa yang menggerus sedikit demi sedikit kebiasaan menulis ku yang mulai aus. Jika dulu aku ditantang untuk menuliskan sesuatu, aku dengan senang hati mengayunkan tangan, meliukkannya diatas kertas. Ide seperti tak pernah habis-habisnya menjalari otakku. Tapi itu sekali lagi, dimensi beberapa tahun silam. Sekarang? Menulis seperti sebuah beban, padahal ia hanya butuh waktu, pengamatan yang jeli, dan KEMAUAN DARI DIRI SENDIRI. Dulunya aku tak harus belajar bagaimana cara menulis, inspirasi datang tak terduga. Dan jemari dengan sabarnya menggoreskan buah-buah ide yang berlari disepanjang neuron otak melebihi kecepatan cahaya.

Dan hasilnya, buku tulis berhalaman 60 lembar itu penuh dengan kumpulan puisiku, tak hanya sampai disitu, aku harus menyambung buku tulis itu dengan buku tulis lainnya yang berjumlah halaman sama untuk ku jadikan buku puisi selanjutnya. Begitulah, hingga  ditahun 2008, aku berhasil menggabungkan enam buah buku tulis berhalaman sama yang isi nya penuh dengan puisi, mungkin ratusan jumlahnya. Belum lagi puisi yang iseng-iseng aku tulis di note fesbuk, laptop, catatan di hape dan yang berceceran memenuhi kepala.

Saat ini (di waktu aku mengetikkan kata ini) aku masih dijejali rasa aneh yang luar biasa. Aku tahu, keadaan yang terjadi pada diriku juga dialami jutaan orang lain di luar sana, ada masa-masa dimana kita mengalami “kejenuhan”  dalam kepenulisan. Aku merasa jenuh karena aku merasa apa yang aku tuliskan hanya berkutat dengan yang itu-itu saja atau Aku merasa “aah, kayanya ide ini uda pernah ditulis deh”, mungkin itu yang menyebabkan tulisanku tak pernah mengalir. Tapi yaa, kembali lagi sama diri sendiri, adanya banyak hal yang dapat kita tulis, meskipun itu hanya bersifat kecil, remeh temeh, kadang di pandang tak penting tapi justru menjadi ide yang “beda” atau bahkan kelihatan “wooww” jika kita MAU  menuliskannya.

Jujur aku akui, semenjak aku merantau di Jogja, ada jutaan kisah yang ingin aku ceritakan. Tapi semuanya hampir tak tersentuh kata, hanya sebagian kecil itu pun dalam bentuk puisi. Selama di Jogja, aku seperti anak kecil yang mencoba kembali belajar menulis, dipapah untuk memegang pena, dijejali masukan untuk menambah ide, atau bahkan bersikap seperti orang galau habis putus cinta hanya untuk mencari sejumput ilham.

Aku memutuskan untuk masuk ke salah satu forum kepenulisan yang ada di Jogja, belajar dari awal lagi. Salah satu temanku yang juga seniorku pernah berkata, “kalo mau bisa nulis, banyak-banyak membaca aja dek, itu aja koq kuncinya, simple toh”. Aku menangkap dua makna kata membaac yang dimaksudkan dari perkataan beliau, yang pertama jika kita banyak membaca (buku) kita bisa belajar memahami tata bahasa kepenulisan, memperkaya diksi, sehingga mempermudah untuk menuliskan sesuatu. Kedua, jika kita banyak membaca (kehidupan) kita tak akan kesusahan mencari ide, ilham, inspirasi, atau apapun itu namanya yang nantinya akan kita jadikan sumber tulisan kita.

Dan akhirnyaa, tulisan ini terangkai. Padahal ini terjentik hanya dari tantangan seorang sahabat ku yang baik hatinya, yang sama-sama berjuang denganku dibidang kepenulisan, tak bosan menceramahiku saat aku datang padanya dengan segunung persoalan “mati ide dalam menulis”, sahabat masa Aliyah ku, Isni Wardaton. Ia dengan tiba menyodorkan pistol tantangan tepat dipelipis ku saat tengah asyiknya membalas komentar status fesbuk. Dengan nada mengancam ia berkata “yoook posting sesuatu malam ini. Qe tag aku, aq tag qe. Kalau ga, malam besok double postingan”.


Dan aku, tidak bisa berkata tidak :’)

3 comments:

  1. Lha, ini tulisannya mengalir banget ky... bagus lho... coba hari-hari di jogja qe tulis kaya gi aja... ringan dibaca mudah dipahami. Pasti menarik. Aq tunggu ya malam bsok, atau double post. :D

    ReplyDelete
  2. haiyyaaa....
    aku kira bakal dapat kritikan pedas... hahahah

    ReplyDelete
  3. Bagus kok, tulis lagi yaah... aku hari ini sudah post. :D

    ReplyDelete

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!