Friday, December 27, 2013

Tetiba muncul rasa dari faham kita yang tak seberapa...
Langcang menguntai jarak yang tak sepadan...
Separuhnya teramat luas membentang...
Pinta yang tak disulam dari harapnya...

Jerih perca-perca merangkai dirinya sendiri...
Disebut-sebut ketukannya mengawali doa...
Jika musabab asalnya tak terketahui..
Luruhlah lalang dari bunga tanpa mahkota...

Maka sesukanyalah berontak tak seperti lazimnya...
Tak sepuh diusap lalai dari karatan...
Dibendungnya mula-mula tak harap penuhnya...
Membumi seketika tak faham pintanya...

Jogjakarta, 27 Desember 2013 9.07pm

Wednesday, November 6, 2013


Landscape-nya membentang, terurung warna pias memias...
Ada sahutan kanopi, menyeruput sekena udara...
Hari ini panas...
Larik kaki-kaki kecil, susur singgah sebentar...

Ia tersenyum...
Tak lebih terenyuh...

Mbok-nya sabar menuntun...
Diam menggenggam senyum...
Pastilah hidup hanya hitam dan putih dalam matanya...

Maka berlanjut di ujung jalan...
Sikap sempurna membetuli kerah...
Terpicing tatap mata-mata harta...

Ini geli sungguh...
Takdirnya bahkan tak pernah disentuh...
Ruam runyam sesekali mengaduh...
Tampias pinggir-pinggir lehernya meleleh...


Jogja , Nov 6th 2013

Saturday, October 19, 2013


Ini, entah kali keberapa aku dirasuki virus “galau” nulis. Pengen deh rasanya mencak-mencak (baca : gregetan ga jelas) kalo baca tulisan-tulisan orang diblog, milis, catatan FB, ocehan twitter, kulit hewan, tulang belulang, kain kafan (apaan coba?).  Tapi yaa, gitu laah, saya (penulis) Cuma bisa mencak-mencak aja  sambil pukul-pukul bantal yang ga bersalah sama sekali. Ini entah sudah kali keberapa aku dirasuki virus “galau” menulis.


Padahal yaa, kalo difikir-fikir nulis Cuma butuh waktu, pengamatan, sama KEMAUAN DARI DIRI SENDIRI (ini nih yang paling penting). Dulunya aku rajin banget nulis tapi masih dalam bentuk puisi. Start awal pertama kali itu pas abis bencana Tsunami, secara tidak sengaja aku membaca puisi saudara yang juga temen aku namanya Dhica, dia korban Tsunami.

Kita flashback dikit ke dimensi waktu Sembilan tahun yang lalu, sekitar pertengahan 2005 saat aku masih di bangku SMP. Waktu itu setelah bencana Tsunami, Dhica yang kehilangan kedua orang tuanya plus adik bungsunya karna Tragedi itu di asuh sama kakek dan neneknya yang tinggal tetanggaan di desa tempat aku tinggal. Kebetulan, dia dimasukkan ke sekolah dan kelas yang sama dengan ku.

Kejadian itu bermula sesaat setelah pelajaran matematika yang di asuh oleh Ibu Susi selesai. Aku meminjam buku catatannya untuk menyalin beberapa materi matematika yang ga sempat tertulis. Nah, kebiasaan aku dan temen-temenku waktu SMP adalah suka mengobrak abrik catatan orang. Setelah selesai menyalin, aku membolak-balik lembar demi lembar halaman catatannya Dhica, ketika sampai dipertengahan lekukan buku, aku menemukan secarik puisi disana, juga dilembar-lembar selanjutnya setelah halaman pertengahan itu. Aku mulai membaca,  menyelami diksi demi diksi yang diteriakkannya. Aku tertegun, bahkan hampir menangis. Aku yakin ia menuliskannya  dengan tetesan air mata, tiap lekuk aksara yang tertulis adalah jerit perih kerinduannya pada kedua orang tuanya. Yaa, hampir seluruh puisi yang tertulis dibuku itu bercerita tentang kejadian yang “menggetarkan” minggu 26 desember itu. Ia juga menuliskan sajak ketegaran diri, yang terbaca dari tekanan pena nya, hurufnya mencetak bekas yang  timbul dihalaman belakang selanjutnya.

Semenjak kejadian itu, Dhica dengan puisinya, mampu menyentak syaraf-syaraf “sastra” yang bergumul penuh difikiranku. Aku memandangnya kagum, dia yang saat itu masih berumur 13 tahun harus memikul kisah yang memilukan itu. Aku yakin, ada banyak Dhica-Dhica yang lain diluar sana, tapi Tuhan menakdirkan aku untuk mengenalnya bahkan semenjak kami masih bayi, dan menyentakkan sedikit kemampuan untukku memadu kata-kata. Yaa, aku suka menulis puisi karena dia. Maka, kubuatkan satu buku khusus untuk tulisan berbait-bait itu agar dapat ku baca nantinya, hanya satu buku tulis biasa bergambar Blue Duck sejumlah enam puluh lembar. 

Tiada hari aku lewatkan tanpa menuliskan kata-kata dibuku itu, seperti sudah menjadi semacam diary bagiku, aku menulisnya setiap hari, setiap hari. Imajinasiku mulai menjalar bebas, aku bisa mengekspresikan kejadian apa saja di puisiku. Aku mencuri perasaan teman-temanku yang putus asa, putus cinta, galau, bahkan kelaparan untuk ku jadikan nyawa dalam puisiku. Aku menyelami gerakan lembut awan, helaan lembut angin, anggukan anggun bebunga, dan apa yang ku dapat dari kecapan semua panca indraku. Aku menuliskannya sebagai nyawa, maka jika sehari saja aku tak menulis, jasad terasa seperti mati.

Tapi itu dimensi Sembilan tahun silam. Aku tak tahu kebiasaan apa yang menggerus sedikit demi sedikit kebiasaan menulis ku yang mulai aus. Jika dulu aku ditantang untuk menuliskan sesuatu, aku dengan senang hati mengayunkan tangan, meliukkannya diatas kertas. Ide seperti tak pernah habis-habisnya menjalari otakku. Tapi itu sekali lagi, dimensi beberapa tahun silam. Sekarang? Menulis seperti sebuah beban, padahal ia hanya butuh waktu, pengamatan yang jeli, dan KEMAUAN DARI DIRI SENDIRI. Dulunya aku tak harus belajar bagaimana cara menulis, inspirasi datang tak terduga. Dan jemari dengan sabarnya menggoreskan buah-buah ide yang berlari disepanjang neuron otak melebihi kecepatan cahaya.

Dan hasilnya, buku tulis berhalaman 60 lembar itu penuh dengan kumpulan puisiku, tak hanya sampai disitu, aku harus menyambung buku tulis itu dengan buku tulis lainnya yang berjumlah halaman sama untuk ku jadikan buku puisi selanjutnya. Begitulah, hingga  ditahun 2008, aku berhasil menggabungkan enam buah buku tulis berhalaman sama yang isi nya penuh dengan puisi, mungkin ratusan jumlahnya. Belum lagi puisi yang iseng-iseng aku tulis di note fesbuk, laptop, catatan di hape dan yang berceceran memenuhi kepala.

Saat ini (di waktu aku mengetikkan kata ini) aku masih dijejali rasa aneh yang luar biasa. Aku tahu, keadaan yang terjadi pada diriku juga dialami jutaan orang lain di luar sana, ada masa-masa dimana kita mengalami “kejenuhan”  dalam kepenulisan. Aku merasa jenuh karena aku merasa apa yang aku tuliskan hanya berkutat dengan yang itu-itu saja atau Aku merasa “aah, kayanya ide ini uda pernah ditulis deh”, mungkin itu yang menyebabkan tulisanku tak pernah mengalir. Tapi yaa, kembali lagi sama diri sendiri, adanya banyak hal yang dapat kita tulis, meskipun itu hanya bersifat kecil, remeh temeh, kadang di pandang tak penting tapi justru menjadi ide yang “beda” atau bahkan kelihatan “wooww” jika kita MAU  menuliskannya.

Jujur aku akui, semenjak aku merantau di Jogja, ada jutaan kisah yang ingin aku ceritakan. Tapi semuanya hampir tak tersentuh kata, hanya sebagian kecil itu pun dalam bentuk puisi. Selama di Jogja, aku seperti anak kecil yang mencoba kembali belajar menulis, dipapah untuk memegang pena, dijejali masukan untuk menambah ide, atau bahkan bersikap seperti orang galau habis putus cinta hanya untuk mencari sejumput ilham.

Aku memutuskan untuk masuk ke salah satu forum kepenulisan yang ada di Jogja, belajar dari awal lagi. Salah satu temanku yang juga seniorku pernah berkata, “kalo mau bisa nulis, banyak-banyak membaca aja dek, itu aja koq kuncinya, simple toh”. Aku menangkap dua makna kata membaac yang dimaksudkan dari perkataan beliau, yang pertama jika kita banyak membaca (buku) kita bisa belajar memahami tata bahasa kepenulisan, memperkaya diksi, sehingga mempermudah untuk menuliskan sesuatu. Kedua, jika kita banyak membaca (kehidupan) kita tak akan kesusahan mencari ide, ilham, inspirasi, atau apapun itu namanya yang nantinya akan kita jadikan sumber tulisan kita.

Dan akhirnyaa, tulisan ini terangkai. Padahal ini terjentik hanya dari tantangan seorang sahabat ku yang baik hatinya, yang sama-sama berjuang denganku dibidang kepenulisan, tak bosan menceramahiku saat aku datang padanya dengan segunung persoalan “mati ide dalam menulis”, sahabat masa Aliyah ku, Isni Wardaton. Ia dengan tiba menyodorkan pistol tantangan tepat dipelipis ku saat tengah asyiknya membalas komentar status fesbuk. Dengan nada mengancam ia berkata “yoook posting sesuatu malam ini. Qe tag aku, aq tag qe. Kalau ga, malam besok double postingan”.


Dan aku, tidak bisa berkata tidak :’)

Tuesday, October 8, 2013


Gerisik lauh berpeluh satu, bukan tanpa tak disadari
Habisnya terang berurut faham seribu...
Jika ruap-ruap nafas tinggal sepenggal
Bayang diburu tanpa pengampun...

Kilahnya malang...
Hanya guntur berpaling seseru...
Riaknya kecil...
Hanya noktah tergambar membiru...
Ia bukan pula luka,
Tak sampai kisahnya menjadi cerita

Tepi lisan-lisan jera
Disungguh hampir tak bertala
Diramu sepercik menyala...
Tapi lagi, bukan kisah itu yang menjadi cerita....

Sedulur pakuan meraja
Ditampik pun niscaya tak bersuara
Maka badan hanya dapat bersenyawa....



Jogja, Oct 8th 2013

Friday, April 12, 2013


…Maka disinilah aku berada. meraih mimpi yang tak sekedar mimpi. Meraih cinta yang tak sekedar cinta. Menyulam kata demi kata merajut makna demi makna, memberi arti dari tulisanku sendiri. Maka kebenaran akan terkuak. Seiring niat yang dipadukan sejak awal tertanam. Maka menulislah, ntuk mengikat ilmu seperti yang dikatakan sayyidina Ali Karamallahu Wajhah…

Begitulah kata yang sejak pertama ku tulis akan berlanjut menjadi setangkup frasa, segumpal kalimat seonggok paragraf atau menjelma menjadi bait-bait indah puisi. Maka kata dapat begitu kuat, dapat begitu indah tergantung bagaimana penulis meniupkan “ruh” pada kata-kata selanjutnya. Menapaki kata mendaki tulisan adalah kegemaranku semenjak aku duduk dibangku Sekolah Dasar. Bunda yang mengajarkanku, setia memegang tanganku membantu mengarahkan lekuk demi lekuk abjad yang ku tulis.

Karna bagiku, tulisan tak sekedar hanya dapat dibaca, namun juga memberi makna kebaikan disela spasinya. Maka menulislah karena-Nya (aah, bukankah segala sesuatu yang kita lakukan  memang harus karena-Nya?) segala Cinta-Nya, Kuasa-Nya, Kekasih-Nya, Semesta-Nya ntuk dapat menyadari diri sebagai hamba-Nya. Rumit? Serumit jalan takdir yang dihamparkan-Nya bukan? Maka mulailah menggerakkan tanganmu, kokoh mencengkram pena, tegak menggulirkan tinta selaras dengan liukan kata.

Awal perkenalanku dengan FLP termulai sekitar pertengahan tahun 2004, nun jauh dipertengahan tanah Rencong, sejak aku menduduki bangku kelas II SMP dari novel-novel yang kubaca. Darinya aku  mengenal penulis-penulis terkenal seperti Izzatul Jannah, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Boim Lebom dll. Mulai dari bacaan itulah, tangan ini mulai tergelitik menjejaki huruf demi huruf yang terangkai menjadi beberapa kata. Terlebih pada saat bencana Gempa & Tsunami yang menerpa Nanggroeku tercinta, sajak-sajak kepedihan, kehilangan, kesedihan menggema bertalu-talu dalam iringan kata yang kurangkai. Menginjak  jenjang Menengah Atas keinginan  bergabung dengan forum ini mulai tumbuh, ditambah program FLP goes to school yang rutin diadakan tiap pekan di sekolahku oleh Forum Lingkar Pena.

Ironisnya, selama tiga tahun di SMA  kesempatan untuk masuk dalam forum ini masih belum terwujud. Beberapa kali (atau bahkan beratus kali) temanku, sebut saja Isni mendesak ku untuk ikut bergabung dengan FLP. Dikarenakan waktuku yang tersita untuk aktif menjadi pengurus organisasi Rohis sekolah, maka keinginan untuk bergabung dengan FLP aku pendam.

Selama menjabat menjadi pengurus Rohis inilah aku mulai mengenal dakwah dan ukhwah. Seorang Murabbi  pernah berkata “Dakwah itu tak harus disampaikan dengan berkoar-koar (ceramah) tatalah ia dengan santun melalui tulisan”.  Maka mulailah aku mengagumi Sayyid Qutub,  Ust Salim A Fillah, Solikhin Abu Izzudin  dan penulis-penulis lainnya yang berdakwah melalui goresan pena. Karenanya terbuka pemahamanku tentang perkataan Sang Pemuda Pemberani, Ali RA : “Ikatlah Ilmu itu dengan menulisnya”. Maka itulah ilmu, yang berkembang melalui ide, gagasan, fikiran, kebiasaan, perilaku atau apapun yang ditulis dan dibaca hingga menghasilkan pemahaman baru, inspirasi baru, paradigma  baru, kebaikan baru yang nantinya akan dibaca hingga menghasilkan bulir-bulir kebaikan, bulir-bulir ilmu, terus dan terus. Namun sebaliknya jika sebanyak apapun ide, fikiran, gagasan atau apa pun itu yang tak pernah tertuliskan maka ia tak pernah akan terbaca, ia akan terlupa.

Maka setelah bertahun-tahun aku menunggu untuk dapat bergabung dalam wadah Forum Lingkar Pena dengan merebut kesempatan yang ada dan inilah saatnya ku coba belajar mengepakkan rangkaian kata yang kelak ku gunakan sebagai sayap mengarungi semesta  dakwah. Di sini juga, aku coba kembali menata dan meningkatkan ghirah dakwah yang sebelumnya sempat meredup .

 Karna itulah aku di sini, memberi semua yang aku bisa untuk dapat aku tuliskan. Yang dengan rangkaian kata ini jua akan ku gamit lengan-lengan manusia untuk menyelami dalamnya samudra ilmu, menyadari takjub diri akan kebesaran-Nya, meningkahi riak-riak kabut keegoisan, memberi inspirasi kepada tunas-tunas muda untuk menetaskan ilmu-ilmu kebajikan  hingga terhantar pada pribadi Rabbani yang menawan.


Thursday, April 11, 2013


Kulihat saja, membentang titah menyaru angkasa…
Sesungging nafas baru dicoba toreh
Oleh sayup langkah-langkah patah…
Ingin terbang kepak jarang-jarang…
Sampai meraih bijaksana dalam buaian…

Bertanggung segara menjauh seangkasa….
Ini tetap jujur mengenali diri…
Merintih himpit diseru suara
Memadu pacu dipetah selera…
Maka ia retak, enggan meretas liuk dalam suka….

Ku panggil pagi mengelabui…
Jarak-jarak gentar menafikan tegak diri…
Berkata sayup dari titik di nadi…
Hidup tak sama kan mati…


Yogyakarta, 11 April 2013
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!