Thursday, November 17, 2011


Bad day.
 Sungguh, ini terjadi diluar kehendak ku. Soal ujian yang jauh di luar prediksiku.  Tak ada yang tak bisa di kerjakan asal kita mau mengerjakan dan mempelajarinya.  Yaa… tapi tidak untuk ujian hari ini. Aku merasa kurang dalam segala persiapan. Kurang belajar yang berakibat pada kurang mengerti dalam memahami materi pelajaran. Ada banyak materi yang ku dapat, hanya saja kata-kata yang digunakan terlalu tinggi (atau aku yang terlalu bodoh) hingga sulit untuk dimengerti.

Elektronika Lanjut, nama monster itu pagi ini. Bagaimana tidak, soal yang hanya terdiri dari 3 pertanyaan, dapat menyaru menjadi monster yang membabat habis jutaan kubik bongkahan semangat yang ku kumpulkan sejak tadi malam. Jangan kau tanyakan apa yang ku pelajari didalamnya. Karena itu merupakan hal yang mendasar yang seharusnya aku ketahui ketika belajar Elektronika Dasar, semester yang lalu. Dan kini, aku tak tahu harus mengulang dari mana pelajaran itu. Otak ku Ibarat magnet yang mempunyai 2 polar yang sama, saling tolak menolak. Semua informasi materi yang ku pelajari, enggan menyatu dengan sinyal yang dijentikkan neuron-neuron itu untuk dikirim ke otak kiri. Mau tak mau, aku harus menelan kembali pelajaran semester yang lalu, dengan sedikit Amnesia.  

Dan inilah akibatnya, lembar jawaban ku putih tak bernoda hanya ada garis hitam horizontal sebagai pembatas baris demi baris. Aku mencoba mencari – cari sisa informasi yang ku simpan di file-file otakku. Mungkin masih ada sisa yang bisa ku ingat.  Tapi nihil, aku tak mendapat apa-apa. Pertanyaan itu sama sekali tak terprediksi, jauh dari perkiraanku. Kembali aku menatap soal yang dicetak pada satu lembar kertas berukuran  A4. Hanya ada tiga soal yang tertera disana. Hanya tiga. Tapi untuk mencari penyelesaiannya, Masya  Allah, otak ku benar-benar blank.

Aku bingung. Tak tahu harus bertanya kepada siapa. Tiba-tiba Sebuah ide iseng timbul dalam dunia imajinasiku. Aku mencoba bertanya satu persatu kepada soal yang tertulis di selembar kertas itu. Ada transistor bertengger dipertanyaan pertama, mempertanyakan dirinya yang terbentuk dari bahan semi konduktor Si (Silikon) beserta gambaran proses pembentukan elektrodanya. Ada rangkaian penguat di pertanyaan ke dua, beserta komponen-kompenen aktif dan pasifnya berkehendak meminta dijelaskan tentang fungsinya masing-masing.  Tertulis angkuh, Penguat Daya Tertala beserta kasta-kasta yang membaginya . Aku menghela nafas, ketiga pertanyaan itu  membuatku bad mood saja. Tak secuil informasi pun bisa ku tangkap. Dengan ketus, pertanyaan pertama ku tujukan kepada transistor.

“Siapa kamu?” Tanya ku kesal. “Bertengger  seenaknya dipertanyaan pertama, membuat pusing saja”.
“Apa fungsimu? Kau mengacaukan informasi otak ku dengan menambahkan bahan silicon itu. aih, kenapa juga kau harus ditambahkan bahan silicon sialan itu, benar-benar memuakkan”. Cerca ku tanpa ampun.

Dengan santainya  ia menjawab, “ Sabar anak muda, tak perlu kau mencerca ku dengan pertanyaan seperti itu. Sadarkah kau anak muda, kau sebenarnya tahu siapa diriku. Hanya saja sifat pelupa mu, tak mau mengingat informasi yang sudah lalu. Ah, benar termaktub dalam kitab Tuhan, manusia itu tempat segala lupa. Ditambah kau tak mau mempelajari ku lebih lanjut. Inquiry mu kecil anak muda, bagaimana kau kan menjadi seorang yang berilmu, menguak tabir kebesaran Tuhan dengan pengetahuan yang kau dapatkan? Bukan kah itu cita-cita mu?”.

Aku tersentak, muka ku merah padam. Berani – berani nya dia berkata seperti itu.  Aku muntab. Belum sempat aku berkata dia mencerocos lagi. Menyalahkan ku dengan telak.

“ Bodoh nya dirimu anak muda, katanya kau punya akal. Mau saja mengikuti hawa nafsu untuk tidak belajar, apa kerja mu?? Main-main?? Melamun dengan cerita-cerita bodoh mu? Buang-buang waktu saja!” .

Kata-katanya mengena, aku terdiam menahan malu. Suasana hatiku berubah seketika. Aku mengalah.

“Lantas,  harus bagaimana aku menjawab pertanyaan tentang dirimu? ”
“Katamu kau orang berpendidikan, tak dapat menulis dan membaca kah dirimu?”. Sindirannya menusuk.
“Jawab apa yang ditanyakan…” Ia berkata datar.
“ Tapi aku tak tahu bagaimana cara mu dibentuk dengan unsur silicon itu?”.
“Apakah kau harus tahu anak muda?”
“Tentu saja, bagaimana lah aku akan menjawab pertanyaan tentang dirimu!”
“Kau mau tahu hanya untuk bisa menjawab pertanyaan tentang aku pada saat ujian? Setelah ujian ini berakhir kau pasti akan lupa lagi.” Pernyataan yang cerdik. Aku terdiam.
“Tanyakan kepada Dosen sok pintar mu itu, katakan padanya jangan menggunakan kata-kata bersayap saat menjelaskan. Kau masih bodoh, tak sampai akalmu menjangkaunya.”

Aku geram. Aku hanya ingin diberi sedikit pencerahan bukan cercaan.  Ternyata tak ada gunanya bertanya komponen elektronik itu. Sombong sekali dia. Aku malu untuk bertanya lagi. Ku tinggalkan saja Transistor dan unsur silikonnya itu. Hatiku nanar.

Aku menyapu pandangan ke pertanyaan yang ke dua. Aiih.. Rangkaian penguat itu, jelas-jelas aku tak tahu menahu tentang itu. Hanya sedikit, ya… hanya sedikit yang ku  tahu. Tentang perbedaannya dengan rangkaian penguat lain. Rangkaian penguat –biasa- itu, bergantung pada catu dayanya untuk kinerja inputnya. Beda dengan rangkaian penguat yang lain – Op amp misalnya, yang tak tergantung dengan catu dayanya. Benarkan? Ah sudahlah, aku juga masih ragu dengan apa yang ku yakini.

Pengertian, prinsip kerja dan aplikasinya gelap bagiku. Aku hanya mengenali sebagian kecil dari komponen-komponennya, Resistor dan Kapasitor. Fungsinya juga berubah karena telah terhubung dengan rangkaian penguat itu.  Ia menatapku garang. Aku ragu-ragu untuk bertanya. Hatiku tak enak.

“hm.. hai…!” Sapa ku. Konyol sekali.

Ia tak menjawab. Air mukanya masam. Ia tentu geram, dulu aku tak mempelajarinya dengan baik.Seringai sinisnya seperti berkata, Inilah pembalasanku.

“Ada apa anak muda?” akhirnya ia angkat suara.
“Boleh aku bertanya tentang prinsip kerja dan fungsi dari komponen-komponenmu?” Tanya ku tanpa peduli.
“  Kau baru menanyakan hal itu sekarang anak muda?? Bertanya pada saat ujian. Itu yang kau dapat dari pelajaran bangku kuliahmu?”

Aku terkesiap. Perlahan-lahan aku mengumpulkan keberanianku.
“ Maaf, aku tak tahu menahu tentang dirimu” Aku mengakuinya. Bodoh sekali.
Ia tersenyum sinis, tampak sekali merendahkan ku kemudian mendampratku habis-habisan.
“Kemana fikiranmu melayang saat dosen menjelaskan, hah? Dudukmu diam, mengangguk seolah mengerti. Menyirat wajahmu seolah sok tahu. Lagak mu anak muda sok pandai , tak mau menulis catatan. sangka mu, otakmu terlalu kuat untuk mengingat, hah?
“sekarang baru kau rasa, ujian tak tahu menjawab apa”.  Ia muntab. Menatapku nanar,  tega mendampratku habis-habisan.

Aku terdiam, bungkam. Dunia seperti menghimpitku. Belum sempat aku berkilah. Bongkahan-bongkahan tajam es di kutub utara dengan riangnya menusuk-nusuk ulu hatiku. Aku remuk, meski wujudku terlihat tetap. Aku tersita rasa malu yang tak kepalang tanggung. Ia membabat habis rasa percaya diriku. Ini masih pertanyaan yang kedua.

Semua rasa bertumpu di hatiku yang remuk. Aku marah pada diriku sendiri, jengkel, menyesal, dan hampir putus asa. Cepat ku tutup lembaran soal. Aku tak punya daya lagi untuk bertanya pada soal yang ketiga. Aku tahu apa jawabannya, semua pastilah kembali pada kesalahanku lagi.

Aku kumpulkan sisa-sisa energi ku, pandanganku berhambur ke sekitar. Wajah-wajah memelas teman-temanku menyiratkan kebingungan. Tak jauh beda dengan diriku. Aku menatap lembar jawaban ku. Masih putih, hanya ada coretan nama, nomor mahasiswa , dosen pengampuh, lesson, dan garis-garis hitam pembatas baris demi baris. Aku menghela nafas panjang. Dalam hati aku bertanya kepada Tuhan.


Tuhan, bolehkah aku mencontek?
Categories:

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!