Friday, September 30, 2011


Disini, seperti menanti seribu beling yang berterbangan...
Serasa menusuk terkadang sakit, tak jarang perih....
Membisu langkahnya terbujur kaku…
Lalu, sangkanya hanya lalu yang dilupa....
Sampai dering tak ingat apa-apa....
Hanya membisu tak percaya pada kenyataan, berfikir senyum kan mengubah rasa....
Tak ayal di kecam membunuh semua perih....
Layar itu berkedip-kedip....
Menanti jutaan kata terukir menari-nari di hamparan putih...
Disangkanya hati cepat kan berubah...
Terbuka dalam nyata yang bertebaran....
Mengenali telisik jiwa kembali hanyut....
Dideraan jumpa tak bersua...
Satu dua mungkin terdengar...
Dan denting-denting yang berloncatan...
Memadu kertas membingkai pesawat....
Menerbangkannya dengan sekuat tenaga...
Tak peduli ada orang yang memperhatikan...
Sesuai dalam nyata yang sebenarnya....
Kenapa cahaya tak berpendar??
Katanya seribu peluh menanti ....
Menanti untuk dikeringkan dengan fotonnya...
Sangkanya peluh bukan air....
Mau saja dikeringkan percuma....


Jogjakarta  September 30, 2011Disini, seperti menanti seribu beling yang berterbangan...
Serasa menusuk terkadang sakit, tak jarang perih....
Membisu langkahnya terbujur kaku…
Lalu, sangkanya hanya lalu yang dilupa....
Sampai dering tak ingat apa-apa....
Hanya membisu tak percaya pada kenyataan, berfikir senyum kan mengubah rasa....
Tak ayal di kecam membunuh semua perih....
Layar itu berkedip-kedip....
Menanti jutaan kata terukir menari-nari di hamparan putih...
Disangkanya hati cepat kan berubah...
Terbuka dalam nyata yang bertebaran....
Mengenali telisik jiwa kembali hanyut....
Dideraan jumpa tak bersua...
Satu dua mungkin terdengar...
Dan denting-denting yang berloncatan...
Memadu kertas membingkai pesawat....
Menerbangkannya dengan sekuat tenaga...
Tak peduli ada orang yang memperhatikan...
Sesuai dalam nyata yang sebenarnya....
Kenapa cahaya tak berpendar??
Katanya seribu peluh menanti ....
Menanti untuk dikeringkan dengan fotonnya...
Sangkanya peluh bukan air....
Mau saja dikeringkan percuma....

Jogjakarta  September 30, 2011 

Sunday, September 18, 2011


Belum tergerus waktunya...
Meniti tiap jejak demi jejak....
Seperti pagi yang basah dalam balutan,
embun... Menyeruak, membingkai maya....

Hanya dan hanya yang tak bertuan...
Mengambil alih waktu terbuang...
Berletup-letup menjengkal tanah...
Tak urai disudut terburai...

Langkahnya jauh...Bergerimis disambut cempaka...
Laiknya nafas yang terhembus debu....
Membujur tiada dalam petikan tualang...

Tunggak satu berjelang seribu...
Harus dilangkah walaupun termakan deru...
Biar...
Dalam hati hanya Tuhan yang tahu...
Tak kuasa jua mengungkap satu demi satu...

Lalu...
Harus dalam dan kemana lagi...
Jika petikan saja tak kuasa terpikul...
Biarkan jiwa-jiwa terserak dalam lamunan...
Membungkus debur-debur ombak itu dalam hati...


Banda Aceh, Sept, 18th 2011
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!