Sunday, January 23, 2011


Terlalu lama bongkahan ini ku pendam kawan, sebuah bongkahan kenangan yang telah menjadi es di salah satu sudut hatiku. Beku tak mencair. Aku menunggu musim semi untuk mencairkannya. Dan kini musim semi itu datang, ia datang bersama bingkaian cahaya mentari yang ku harap dapat mencairkan semua bongkahan beku ini dengan sempurna. Aku tahu,  kisah ini takkan berarti tanpa kalian semua. Kisah ini tercipta karena Tuhan telah menakdirkan kita untuk bertemu dan waktu merekam semua cerita itu tanpa ada cela. Kawan, tak ada kisah yang tak indah untuk diceritakan. Dan kisah kecilku, adalah awal dari bongkahan yang akan kucairkan. Kencangkan sabuk pengamanmu kawan, kita akan menjelajah ke dimensi waktu 15 tahun yang lalu. Menuju salah satu titik kecil dibumi yang tak terlihat dalam peta. Sebuah negeri diatas awan yang sejuk dikelilingi oleh pegunungan bukit barisan, Rimba Raya.

Taman kanak-kanak. Apa yang ada difikiranmu jika aku sebutkan kata itu??? Ya… bernyanyi, bermain, makan-makan, menangis, tertawa, ahhh… banyak kawan, itulah yang aku lakukan dulu. Dalam rekaman waktu yang ku punya, aku adalah seorang anak yang berwajah manis, berkulit putih, rambutku selalu disisir menyamping oleh ibuku, kata abangku dengan model sisiran rambut menyamping kekanan (sebeng) aku mirip seorang  model iklan dikaleng mentega yang tersenyum memegang roti berbaju warna biru. Hampir mirip kawan. Hanya saja wajahku lebih manis dari model itu.

Mentari menyapa bumi, embun masih bergelayutan dipucuk-pucuk rumput. Hm…udara dikampungku memang sejuk kawan. Rasa enggan untuk bangun mengalahkan goncangan tangan yang membangunkanku. Yah, Kakakku, sebut saja Aan, dia selalu membangunkanku dari buaian mimpi, jika aku masih membandel ia akan  menggelitik lubang hidungku dengan ujung selimut hingga aku menggeliat-geliat sampai kesadaranku  mencapai tahap maksimal. Dan dimulai lah  pagi itu dengan tangisan kencang dari mulutku. Ahhh, sewaktu kecil kami selalu tak pernah akur.

Pagi yang cerah. Aku siap dengan seragam taman kanak-kanak-ku, kemeja kuning dengan celana pendek hijau. Tak lupa, dasi hijau yang dikalungkan dibagian dalam kerah kemejaku. aku mengenakan tas ranger kesayangan ku, kakakku juga rapi dengan seragam putih merah SD nya, tas Boneka Beruang yang disandangnya, naik turun mengikuti langkah kaki kami yang menuruni tangga rumah.  Ibu membuatkan nasi goreng telur dadar untuk bekalku, dengan teh hangat sebagai teman minumku. Setelah suapan terakhir sarapanku, aku digamit kak aan ntuk pergi ke sekolah. Diteras rumah, telah menunggu beberapa teman kakakku. Aku duduk dibangku bekas potongan blog kayu , menunggu kak Aan selesai memakaikan sepatu untukku dan kami akan pergi sekolah bersama-sama.  Itulah yang paling ku suka kawan, pergi sekolah bersama-sama.

Jarak rumah ke sekolah ku sangat dekat, hanya 50 meter di depan rumah. Aku dan kakakku pergi bersama. Ia hanya mengantarkan  ku sampai ke depan sekolah – aku tak menyebut nya gerbang, karna sekolah kami tidak mempunyai pagar . Ohhh yaa… aku lupa memberitahu, aku bersekolah di TK Aisyiah Bustanul Athfal Rimba Raya. Di depan sekolah, teman-temanku yang lain telah ramai, mereka antri menunggu giliran untuk bermain ayunan, sebagian mencorat-coret tanah, melukis geometri tak berbentuk. Maklum, TK ku tak mempunyai arena bermain yang lengkap. Hanya ada dua ayunan bergantung lesu di tiang besi yang telah beberapa kali patah. Aku meraih tangan guruku, Ibu Syamsiah dan menyalaminya. Dengan sapaan yang halus ia menanyakan kabarku pagi ini.

Aku menemukan sahabat kecilku disini. Sahabat-sahabat yang nantinya akan kurindukan ketika aku sendirian mencairkan bongkahan kisah ini. Mereka imut-imut, nakal, pemalu, sedikit jorok, cadel, periang, dan khas perilaku anak umur 5 tahun lainnya.

Si rambut gupung (berambut pendek), Ade Maulida Aritago, sahabat dekatku yang rumahnya hanya lima meter disamping rumahku, waktu kecil ia sangat mudah ngambek, sebentar-bentar ngambek, sebentar-bentar ngambek, hehehehe. Si kalem nan cool , Hardy Fitra, Si rapi jali ini selalu tampil perfeksionis. Irena Dhika Ningtyas yang lucu. Si Mungil Rachmat Chumaidy sepupunya ade. Si muka Imut Mulawarman  atau yang biasa kami panggil maman, yang masih ngompeng kalo pergi sekolah. Sang periang nan manis Fitri Hanita,rambut kucirnya bergoyang-goyang mengikuti muka Chinese-nya.   Si jangkung Juliani Simahbengi, si cadel Ema, Mukaramah, Suratman, Hendra telong , Hamdani, dan sebagian lagi luput dari ingatanku.

Tak ada yang istimewa, kami bermain laiknya anak TK yang lain. Berbaris sembari menyanyikan lagu  dan berdoa sebelum masuk kelas, menggambar, makan bekal dari rumah, belajar mengenal huruf dan angka, istirahat, nyanyi lagi (sayo nara), berdoa, dan pulang. Senin pagi adalah waktu yang paling menyebalkan bagiku, prosesi upacara bendera sedikit menyiksaku. Kami baris membentuk lingkaran. Aku berada di depan, disamping ibu guru Syamsyiah sembari memegang bendera dari kertas minyak berwarna merah putih, berukuran 30 x 10 cm, bertangkaikan lidi. Ya, aku menjadi tiang bendera. Posisiku berdiri sambil mengangkat memegang tangkai bendera. Hahhahaha, aku geli sendiri mengingatnya. Takdir kita menuntut ilmu di sekolah kampong,tanpa ada tiang bendera.

 Aku selalu menunggu datang nya hari sabtu, karna sabtu adalah hari yang tidak membosankan. Sabtu adalah hari yang istimewa, tak ada menggambar, mengenal huruf dan angka, bermain puzzle, dan kegiatan membosankan didalam kelas lainnya. Sabtu adalah hari main-main, hari bebas melihat langit tanpa batas. Ketika pagi sabtu menyapa, kami berkumpul didepan kelas berbaris rapi, bukan untuk masuk kelas tapi Berbaris  meninggalkan kelas. Tempat yang kami selalu kami nantikan jika hari sabtu tiba. Yup… Tugu Radio Rimba Raya adalah tujuan kami. Dengan dua banjar barisan, langkah kecil kaki kami bergembira seirama suasana hati. Sepanjang perjalanan 100 meter itu, kami bernyanyi ria :

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali…
Kiri-kanan, ku lihat saja, banyak pohon cemara…
Kiri-kanan, ku lihat saja, banyak pohon cemara….
Dilanjutkan dengan nyanyian disini senang, disana senang, anak gembala, pelangi-pelangi, lihat kebunku, hingga kami kelelahan dan kehabisan suara…ahh…kawan..memori itu….memori itu benar-benar menyiksaku.

Sesampainya di Tugu, lelah kami terbayar dengan pemandangan lembah pegunungan yang memukau. Kawasan tugu yang luas dan berundak-undak, menjadi surga bermain bagi kami. Lelah dalam perjalanan hilang. Ibu guru mengumpulkan kami untuk duduk di suatu tempat yang mirip hall.  Beliau mulai mendongeng, kali ini dongeng Atu Belah , dongeng dari daerah dataran tinggi Gayo. Selesai mendongeng, kami menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Selepas itu kami bebas bermain sampai waktu pulang tiba.

Kawan, ku tahu cerita ini mungkin biasa saja bagimu, tak ada yang istimewa tak ada yang menarik. Namun bagiku, setiap detail kejadian itu serasa membiusku, melemparku kembali ke masa kanak-kanakku. Disana ku ukir cita-cita yang belum aku gapai. Disana ku ingat wajah-wajah kecil sahabatku, kenangan-kenangan yang ku lalui bersama mereka, dalam balutan rindu yang ku syairkan bersama butiran-butiran air mata haru.

Kawan, satu dari jutaan kubik bongkahan itu telah mencair. Aku berharap musim semi dan mentari datang lagi, untuk mencairkan jutaan kubik bongkahan yang masih tersisa di sudut hatiku. Sampai disini kawan, aku bangga menjadi seorang anak kecil.


Seorang anak kecil yang bernama Rizki Akbar
Categories:

0 comments:

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!