Thursday, December 22, 2011


Masih sore…
basah dalam balutan hujan.
 Rumput hijau itu tersenyum…
Riakan air itu bermuara ke dalam bumi.
Hanya satu, terkadang menetes di ujung daun.
Terhela mengambang….

Sudah sore…
Sayap-sayap itu terbang pulang…
Manuvernya bersaksi indah di pusaran langit….
Gerombolannya menyingkap mata terpana…
Tuhan yang ciptakan mereka….

Adalah hujan, yang menyebabkan ranting itu basah….
Adalah hijau, yang memberi warna dalam kisahnya…
Adalah kepakan Gereja, yang berseru riuh saat pulang senja…
Adalah lembayung, yang menyempurnakan sore itu dengan pujian kepada-Nya….

Yogyakarta, 22 Desember 2011

Sayap-sayap itu masih menari dipertengahan senja, menyemarakkan dua rimbunan itu…

Segala puji bagi-Mu Ya Rabb, yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat sempurna…

Saturday, November 19, 2011

Muhammad Tirta:
Renyah gemetar hujan terbentur bumi...
Disambut iringan daur sayap cericit...
Nadanya tumpah...
Ruah beralas hijau termakan tanah

Rekahan Hati :
Tersentak bumi dari dengkur kemarau panjang...
Tetes kecil sang hujan meraup terik hingga celah2 retakan tanah...
Ssst.....
Ada yang bersenandung....
Senandung indah rintik basah...
Berkecipak bersama duka yang menguap...

Muhammad Tirta :
Tugasnya hanya memberi pesan...
Melingkar di ujung kala langit....
Tersendu gontai di ayunan ranting patah...
Memekik meminta nafas baru....
Terjulur, menghimpit batasan duka kemarau....

Rekahan Hati :
Begitu kah teriak bumi???
Terlalu bergelimang lara ia hingga meratap pada langit...
Seperti itu kah???
Duhai hujan yang memercik tumpak...
Menghamburkan bau tanah kering dari setiap hempasannya...
Tersenyum hingga terbahak menikmati kuasanya....
Jika kau mengerti tentang retak2 kering tanah bumi,
Maka kau juga akan mengerti mengapa ia justru memekik ratapan dukanya padamu....

Muhammad Tirta :
Rinainya bertebar perlahan...
Bukan tak kuasa menyingkirkan hamparan debu...
Tapi Perintah dari-Nya termakktub disetiap inci takdirnya...
Hingga lemah titik nadir itu bergema....
Gumamkan sedikit melodi tumpah dari gores lukanya....

Rekahan Hati :
Ah....
Meski butir2 bening itu ingin membasuh goresan luka bumi,
Namun tetap saja semua tak akan terjadi tanpa titah Sang PENGUASA....
Takdir....
Tak terbantahkan walau semuanya terbunuh ikhtiar dalam rangkaian panjang do'a....
Sepanjang do'a bumi demi mengharap basuhan langit....

Muhammad Tirta :
Seringainya memburu...
Padam nyala amarah nya tersapu sayup rinai itu...
Membingkai nyali tautan rahasia-Nya....
Dan harapan dari doa-doa panjang bumi...
Kuatkan nafas yang tersentak...
Tersenyum hingga terbahak menikmati kuasa-Nya....

Facebook, 19 November 2011, 16.25 - 17.11 WIB

"Mencuci otak" bersama Kak Syahrina "Rekahan Hati"

Thursday, November 17, 2011


Bad day.
 Sungguh, ini terjadi diluar kehendak ku. Soal ujian yang jauh di luar prediksiku.  Tak ada yang tak bisa di kerjakan asal kita mau mengerjakan dan mempelajarinya.  Yaa… tapi tidak untuk ujian hari ini. Aku merasa kurang dalam segala persiapan. Kurang belajar yang berakibat pada kurang mengerti dalam memahami materi pelajaran. Ada banyak materi yang ku dapat, hanya saja kata-kata yang digunakan terlalu tinggi (atau aku yang terlalu bodoh) hingga sulit untuk dimengerti.

Elektronika Lanjut, nama monster itu pagi ini. Bagaimana tidak, soal yang hanya terdiri dari 3 pertanyaan, dapat menyaru menjadi monster yang membabat habis jutaan kubik bongkahan semangat yang ku kumpulkan sejak tadi malam. Jangan kau tanyakan apa yang ku pelajari didalamnya. Karena itu merupakan hal yang mendasar yang seharusnya aku ketahui ketika belajar Elektronika Dasar, semester yang lalu. Dan kini, aku tak tahu harus mengulang dari mana pelajaran itu. Otak ku Ibarat magnet yang mempunyai 2 polar yang sama, saling tolak menolak. Semua informasi materi yang ku pelajari, enggan menyatu dengan sinyal yang dijentikkan neuron-neuron itu untuk dikirim ke otak kiri. Mau tak mau, aku harus menelan kembali pelajaran semester yang lalu, dengan sedikit Amnesia.  

Dan inilah akibatnya, lembar jawaban ku putih tak bernoda hanya ada garis hitam horizontal sebagai pembatas baris demi baris. Aku mencoba mencari – cari sisa informasi yang ku simpan di file-file otakku. Mungkin masih ada sisa yang bisa ku ingat.  Tapi nihil, aku tak mendapat apa-apa. Pertanyaan itu sama sekali tak terprediksi, jauh dari perkiraanku. Kembali aku menatap soal yang dicetak pada satu lembar kertas berukuran  A4. Hanya ada tiga soal yang tertera disana. Hanya tiga. Tapi untuk mencari penyelesaiannya, Masya  Allah, otak ku benar-benar blank.

Aku bingung. Tak tahu harus bertanya kepada siapa. Tiba-tiba Sebuah ide iseng timbul dalam dunia imajinasiku. Aku mencoba bertanya satu persatu kepada soal yang tertulis di selembar kertas itu. Ada transistor bertengger dipertanyaan pertama, mempertanyakan dirinya yang terbentuk dari bahan semi konduktor Si (Silikon) beserta gambaran proses pembentukan elektrodanya. Ada rangkaian penguat di pertanyaan ke dua, beserta komponen-kompenen aktif dan pasifnya berkehendak meminta dijelaskan tentang fungsinya masing-masing.  Tertulis angkuh, Penguat Daya Tertala beserta kasta-kasta yang membaginya . Aku menghela nafas, ketiga pertanyaan itu  membuatku bad mood saja. Tak secuil informasi pun bisa ku tangkap. Dengan ketus, pertanyaan pertama ku tujukan kepada transistor.

“Siapa kamu?” Tanya ku kesal. “Bertengger  seenaknya dipertanyaan pertama, membuat pusing saja”.
“Apa fungsimu? Kau mengacaukan informasi otak ku dengan menambahkan bahan silicon itu. aih, kenapa juga kau harus ditambahkan bahan silicon sialan itu, benar-benar memuakkan”. Cerca ku tanpa ampun.

Dengan santainya  ia menjawab, “ Sabar anak muda, tak perlu kau mencerca ku dengan pertanyaan seperti itu. Sadarkah kau anak muda, kau sebenarnya tahu siapa diriku. Hanya saja sifat pelupa mu, tak mau mengingat informasi yang sudah lalu. Ah, benar termaktub dalam kitab Tuhan, manusia itu tempat segala lupa. Ditambah kau tak mau mempelajari ku lebih lanjut. Inquiry mu kecil anak muda, bagaimana kau kan menjadi seorang yang berilmu, menguak tabir kebesaran Tuhan dengan pengetahuan yang kau dapatkan? Bukan kah itu cita-cita mu?”.

Aku tersentak, muka ku merah padam. Berani – berani nya dia berkata seperti itu.  Aku muntab. Belum sempat aku berkata dia mencerocos lagi. Menyalahkan ku dengan telak.

“ Bodoh nya dirimu anak muda, katanya kau punya akal. Mau saja mengikuti hawa nafsu untuk tidak belajar, apa kerja mu?? Main-main?? Melamun dengan cerita-cerita bodoh mu? Buang-buang waktu saja!” .

Kata-katanya mengena, aku terdiam menahan malu. Suasana hatiku berubah seketika. Aku mengalah.

“Lantas,  harus bagaimana aku menjawab pertanyaan tentang dirimu? ”
“Katamu kau orang berpendidikan, tak dapat menulis dan membaca kah dirimu?”. Sindirannya menusuk.
“Jawab apa yang ditanyakan…” Ia berkata datar.
“ Tapi aku tak tahu bagaimana cara mu dibentuk dengan unsur silicon itu?”.
“Apakah kau harus tahu anak muda?”
“Tentu saja, bagaimana lah aku akan menjawab pertanyaan tentang dirimu!”
“Kau mau tahu hanya untuk bisa menjawab pertanyaan tentang aku pada saat ujian? Setelah ujian ini berakhir kau pasti akan lupa lagi.” Pernyataan yang cerdik. Aku terdiam.
“Tanyakan kepada Dosen sok pintar mu itu, katakan padanya jangan menggunakan kata-kata bersayap saat menjelaskan. Kau masih bodoh, tak sampai akalmu menjangkaunya.”

Aku geram. Aku hanya ingin diberi sedikit pencerahan bukan cercaan.  Ternyata tak ada gunanya bertanya komponen elektronik itu. Sombong sekali dia. Aku malu untuk bertanya lagi. Ku tinggalkan saja Transistor dan unsur silikonnya itu. Hatiku nanar.

Aku menyapu pandangan ke pertanyaan yang ke dua. Aiih.. Rangkaian penguat itu, jelas-jelas aku tak tahu menahu tentang itu. Hanya sedikit, ya… hanya sedikit yang ku  tahu. Tentang perbedaannya dengan rangkaian penguat lain. Rangkaian penguat –biasa- itu, bergantung pada catu dayanya untuk kinerja inputnya. Beda dengan rangkaian penguat yang lain – Op amp misalnya, yang tak tergantung dengan catu dayanya. Benarkan? Ah sudahlah, aku juga masih ragu dengan apa yang ku yakini.

Pengertian, prinsip kerja dan aplikasinya gelap bagiku. Aku hanya mengenali sebagian kecil dari komponen-komponennya, Resistor dan Kapasitor. Fungsinya juga berubah karena telah terhubung dengan rangkaian penguat itu.  Ia menatapku garang. Aku ragu-ragu untuk bertanya. Hatiku tak enak.

“hm.. hai…!” Sapa ku. Konyol sekali.

Ia tak menjawab. Air mukanya masam. Ia tentu geram, dulu aku tak mempelajarinya dengan baik.Seringai sinisnya seperti berkata, Inilah pembalasanku.

“Ada apa anak muda?” akhirnya ia angkat suara.
“Boleh aku bertanya tentang prinsip kerja dan fungsi dari komponen-komponenmu?” Tanya ku tanpa peduli.
“  Kau baru menanyakan hal itu sekarang anak muda?? Bertanya pada saat ujian. Itu yang kau dapat dari pelajaran bangku kuliahmu?”

Aku terkesiap. Perlahan-lahan aku mengumpulkan keberanianku.
“ Maaf, aku tak tahu menahu tentang dirimu” Aku mengakuinya. Bodoh sekali.
Ia tersenyum sinis, tampak sekali merendahkan ku kemudian mendampratku habis-habisan.
“Kemana fikiranmu melayang saat dosen menjelaskan, hah? Dudukmu diam, mengangguk seolah mengerti. Menyirat wajahmu seolah sok tahu. Lagak mu anak muda sok pandai , tak mau menulis catatan. sangka mu, otakmu terlalu kuat untuk mengingat, hah?
“sekarang baru kau rasa, ujian tak tahu menjawab apa”.  Ia muntab. Menatapku nanar,  tega mendampratku habis-habisan.

Aku terdiam, bungkam. Dunia seperti menghimpitku. Belum sempat aku berkilah. Bongkahan-bongkahan tajam es di kutub utara dengan riangnya menusuk-nusuk ulu hatiku. Aku remuk, meski wujudku terlihat tetap. Aku tersita rasa malu yang tak kepalang tanggung. Ia membabat habis rasa percaya diriku. Ini masih pertanyaan yang kedua.

Semua rasa bertumpu di hatiku yang remuk. Aku marah pada diriku sendiri, jengkel, menyesal, dan hampir putus asa. Cepat ku tutup lembaran soal. Aku tak punya daya lagi untuk bertanya pada soal yang ketiga. Aku tahu apa jawabannya, semua pastilah kembali pada kesalahanku lagi.

Aku kumpulkan sisa-sisa energi ku, pandanganku berhambur ke sekitar. Wajah-wajah memelas teman-temanku menyiratkan kebingungan. Tak jauh beda dengan diriku. Aku menatap lembar jawaban ku. Masih putih, hanya ada coretan nama, nomor mahasiswa , dosen pengampuh, lesson, dan garis-garis hitam pembatas baris demi baris. Aku menghela nafas panjang. Dalam hati aku bertanya kepada Tuhan.


Tuhan, bolehkah aku mencontek?

Wednesday, November 2, 2011


Baru saja hujan basah...
Menitp energi pada ujung dedaun yang hijau..
Menggaris tanah dengan dengung yang sejuk...

Baru saja saja hujan basah...
Lebat...
Selebat kicauan burung yang tengah berpesta diatas kemarau...

Baru saja hujan basah...
Menggenang riak-riak air tanpa muara..
Menyanyikan rinai-rinai pilu tanpa suara..

Jogja, 2 November 2011

Tuesday, November 1, 2011

Tulisan ini merupakan sebuah percakapan antara manusia dan sang pagi…

Manusia :
Pagi....
Akan kuceritakan  suasana pagi ini untukmu.....
Tak seperti biasanya... langit telah mengeluarkan air mata pagi buta...
Sepertinya kekecewaan yang ia pendam semalam
Mendestilasikan awan-awan hitam untuk mengeluarkan hujan pagi ini....
Baru pagi buta...
Bahkan sejak subuh tadi, sang fajar masih dalam peraduan....
Langit telah menangis....
Ringkuk dingin menjadi kebiasaan insan kala fenomena ini terjadi...
Panggilan adzan pun akan di tepis dengan segera....
Dikala hujan tak datang, maka embun akan bernyanyi...
Dikala hujan datang, maka embun akan menari....
Biarkan hujan yang menyanyi, katanya....
Dan mereka menciptakan melodi simfoni yang kompak....

Pagi....
Aku termangu menatap mereka bernyanyi....menari...
Riakan air membecekkan jalan sawah... hal yang lumrah terjadi...
Ikan-ikan sawah itu juga pasti akan meliuk-liukkan tubuhnya...
Ikut bersuka ria bersama hujan pagi ini...
Dan sang katak....ah.... jangan kau tanya lagi....
Ini surga, katanya....

Pagi....
Aku masih tak mengerti...
Bagaimana bisa burung-burung kecil ikut bercicit bersama hujan...
Terbang indah kian kemari, menaikkan sayap membelah lazuardi pagi...
Kilatan manuver terbangnya memberi makna, ia sedang memuji Tuhan-Nya...

Pagi....
Mereka semua bersahabat dengan hujan...
Apakah aku juga harus?
Tapi hujan itu membuat pilu hatiku...
Hujan itu membuat embun tak lagi menyanyi untukku...
Hujan juga yang membuat langit biruku menjadi gelap....
Aku tak mengerti, mengapa semua makhluk itu begitu mencintai hujan....

Pagi...
Maukah kau menjawab pertanyaanku....
Mengapa meraka semua begitu mencintai hujan???
Apa istimewanya...



Pagi:

Manusia.....
Akan kuceritakan sepenggal Rahasia penciptaan yang tak kau ketahui....
Langit tak pernah memendam kekecewaan...
Dan destilasi awan yang kau sebutkan itu,,,,
Ah...itu hanya omong kosongmu, hanya bualan mu merangkai kata untuk bisa menjadi indah...
Sombong kau manusia....
Hujan turun tak mengenal waktu bagimu...
Ia turun dimana saja, kapan saja Tuhan menghendakinya....
Tak peduli apakah malam, ketika bulan & bintang mencipratkan sedikit cahayanya
Tak peduli apakah pagi terlena dengan sapuan mentari...
Tak peduli apakah siang membakar terik bola energi....
Hujan akan turun, dimanapun, kemanapun Tuhan menghendaki....

Manusia...
Terkadang kau memaki sang hujan..
Padahal telah termaktub dalam kitab-Nya...
Hujan adalah Rahmat, yang membawa sumber kehidupan, Air...
Yang dengannya tumbuh bermacam-macam tumbuhan yang berwarna warni
Menciptakan euforia dalam hati manusia lainnya...

Mungkin hanya kamu…
Ya… hanya kamu yang membenci hujan…
Tak perlu kau bawa kisah-kisah bodohmu itu untuk kau kaitkan dengan hujan….
Tidakkah kau rasakan cipratannya terasa menyejukkan??

Yakinlah, aku dan hujan tak berkonspirasi saat ini untuk datang bersama….
Tuhan kami yang mengaturnya…
Karna Dia tahu,telah lama tanah ini kerontang memanggang….

Manusia…
Tak harus kau  mencintai hujan….
Tapi cukup mensyukuri kedatangannya sebagai Rahmat Tuhan mu…
Karna hujan adalah salah satu keajaiban sains…
Sekali lagi, Termaktub dalam kitab-Nya…
Menghidupkan bumi yang telah lama mati…
Bahkan mungkin menghidupkan hati yang telah lama mati…

Manusia…
Mungkin kau tak tahu…
Sesuatu yang tak kasat mata tentang hujan…
Mungkin nanti Langit bersedia membantumu…
Jangan tanyakan padaku…
Aku hanya sepotong pagi yang hampir mati…


Jogjakarta,  12 February – 1 November 2011

Banyak hal yang ingin diceritakan kala hujan datang…

Tak apalah, meskipun berantakan….

Thursday, October 27, 2011



Rintik...
Ditarik bumi berjuta kubik......
Hempaskan ranah tapal kering...
Kini basah...
Hanya sekilas....
Cuma sebentar...
Tak banyak....
Cukup memutihkan layangan awan....
Kini nampak hijaunya....
Turun dalam bentuk Rahmat-Nya...
Menyapu sisa panas kemarau kemarin...
Sebentar...
Dan kini reda...


Yogyakarta, 27 Oktober 2011, 04 : 18 pm


Tuesday, October 25, 2011


Saat itu, jengah nyanyian matahari menderita...
Tangguh panasnya membuat jejak...
Membiarkan lewat musim sesudahnya...
Dipetik huru hara kekeringan...
Lantas...
Seribu butir embun pun tak mampu....
Ada alir yang meresap...
Cepat....
Membiarkan musim lewat sesudahnya...


Yogyakarta, 25 Oktober 2011

Friday, September 30, 2011


Disini, seperti menanti seribu beling yang berterbangan...
Serasa menusuk terkadang sakit, tak jarang perih....
Membisu langkahnya terbujur kaku…
Lalu, sangkanya hanya lalu yang dilupa....
Sampai dering tak ingat apa-apa....
Hanya membisu tak percaya pada kenyataan, berfikir senyum kan mengubah rasa....
Tak ayal di kecam membunuh semua perih....
Layar itu berkedip-kedip....
Menanti jutaan kata terukir menari-nari di hamparan putih...
Disangkanya hati cepat kan berubah...
Terbuka dalam nyata yang bertebaran....
Mengenali telisik jiwa kembali hanyut....
Dideraan jumpa tak bersua...
Satu dua mungkin terdengar...
Dan denting-denting yang berloncatan...
Memadu kertas membingkai pesawat....
Menerbangkannya dengan sekuat tenaga...
Tak peduli ada orang yang memperhatikan...
Sesuai dalam nyata yang sebenarnya....
Kenapa cahaya tak berpendar??
Katanya seribu peluh menanti ....
Menanti untuk dikeringkan dengan fotonnya...
Sangkanya peluh bukan air....
Mau saja dikeringkan percuma....


Jogjakarta  September 30, 2011Disini, seperti menanti seribu beling yang berterbangan...
Serasa menusuk terkadang sakit, tak jarang perih....
Membisu langkahnya terbujur kaku…
Lalu, sangkanya hanya lalu yang dilupa....
Sampai dering tak ingat apa-apa....
Hanya membisu tak percaya pada kenyataan, berfikir senyum kan mengubah rasa....
Tak ayal di kecam membunuh semua perih....
Layar itu berkedip-kedip....
Menanti jutaan kata terukir menari-nari di hamparan putih...
Disangkanya hati cepat kan berubah...
Terbuka dalam nyata yang bertebaran....
Mengenali telisik jiwa kembali hanyut....
Dideraan jumpa tak bersua...
Satu dua mungkin terdengar...
Dan denting-denting yang berloncatan...
Memadu kertas membingkai pesawat....
Menerbangkannya dengan sekuat tenaga...
Tak peduli ada orang yang memperhatikan...
Sesuai dalam nyata yang sebenarnya....
Kenapa cahaya tak berpendar??
Katanya seribu peluh menanti ....
Menanti untuk dikeringkan dengan fotonnya...
Sangkanya peluh bukan air....
Mau saja dikeringkan percuma....

Jogjakarta  September 30, 2011 

Sunday, September 18, 2011


Belum tergerus waktunya...
Meniti tiap jejak demi jejak....
Seperti pagi yang basah dalam balutan,
embun... Menyeruak, membingkai maya....

Hanya dan hanya yang tak bertuan...
Mengambil alih waktu terbuang...
Berletup-letup menjengkal tanah...
Tak urai disudut terburai...

Langkahnya jauh...Bergerimis disambut cempaka...
Laiknya nafas yang terhembus debu....
Membujur tiada dalam petikan tualang...

Tunggak satu berjelang seribu...
Harus dilangkah walaupun termakan deru...
Biar...
Dalam hati hanya Tuhan yang tahu...
Tak kuasa jua mengungkap satu demi satu...

Lalu...
Harus dalam dan kemana lagi...
Jika petikan saja tak kuasa terpikul...
Biarkan jiwa-jiwa terserak dalam lamunan...
Membungkus debur-debur ombak itu dalam hati...


Banda Aceh, Sept, 18th 2011

Sunday, July 24, 2011


Terbujur langkah...
Sedu-sedan, dalam teriak mengambang...
Ambil satu jika berkenan....
Lelah, tumpah ruah dalam carian....

Telisik getarannya terpecah...
Kuat menggantung irama derapannya...
Mencari jejak-jejak ...
Ditapal baris, debu-debu itu menggamit lengah...
Saksikan jutaan molekul yang meninggi...

Tepuk teriakan berpadu...
Menyiksa sunyi pada tengah hari...
Jejak-jejak itu mencari...
Hampir berpaling, dari tiap-tiap wajah yang dikenali...

Pegang sakunya....
Hitung dan hitung kembali nikmat-Nya...
Jika tak ada yang tau seberapa.....
Biarlah, karna itu memang dalam Kuasa-Nya....


Malioboro, July 24th 2011

Thursday, March 10, 2011


Sehingga terbuang desah dalam jeritku...
Mematahkan senyum pelangi di lintasan lazuardi...
Seperti aku tak mampu ...
Kultuskan iringan rasa menancapkan bongkahan rindu itu...
Masih dalam jeritan waktu...
Aku bergandengan dengan hampa...
Aku menyentuh bayangan yang semu...
Riakkan air mata bermuara di ujung sajadah...
Tuhan, Yang Tahu hatiku.....

Di sana....
Terbayang dalam lintas benakku...
Aku akan mengukir langit sekehendak hatiku...
Menciptakan rindu yang hanya akan ku rasa sendiri...
Yang ku susun rapi di bilik-bilik hatiku....

Aku akan hempaskan aurora di langitku...
Ku himpunkan jutaan kubik nebula di sekelilingnya....
Dan membingkainya dengan kumparan gugusan bintang yang berpendar....
Aku tak peduli jika nantinya miliaran foton yang ku susun menjadi cahaya tak berkilau pada akhirnya...

Aku... dikala rindu...
Berharap semua khayalku tentang rasa...
Pautkan hati yang terikat satu dalam kisahku...
Membumbung tinggi dibalut keniscayaan waktu....


Jogja, 10 maret 2011

Saturday, March 5, 2011


Ketika kaki langit berjalan terseok-seok meratapi...
Pucuk sinar matahari bergumam menyendiri...
Dari langit cahaya itu membiaskan hati...
Tergugu kehampaan dalam gema sang waktu...
Aku tak bahagia....
Tak seperti apa yang ada dilintasan fikiran...
Aku menunggu proyeksi kata yang terpantulkan padaku...
Aku menunggu secercah kata rindu yang kau titipkan pada senja.....

Mengapa tak terucap dalam sisiran simfoni kenyataan...
Bahwa Tuhan tlah takdirkan segalanya...
Walau nafas pagi tlah berhembus..
Aku seperti goyah berjalan sendiri.....
Keinginan dalam jelma nadiku bersatu....
Menubruk jantungku terpiaskan lalu...
Deru khayalan berkelebat pacu...
Rindu membentang semu....


Jogjakarta, 5 Maret 2011

Monday, February 28, 2011


Masih dengan hujan pagi ini...
Tak tahu, apakah ini hanya sebuah kebetulan atau telah direncanakan Tuhan sebelumnya...
Langit masih hujan pagi ini...
Dan aku masih menunggu rindu itu merekah...
Aku masih termangu pada embun yang menetes...
Aku masih juga masih berdesah pada pagi yang tak bertuan...
Kiranya hati masih biru dalam balutan kehampaan...

Dalam semua kisah hidup...
Senantiasa ada pelajaran dalam rekaman waktu...
Pecahan-pecahan kaca itu sempat melukai...
Dan ku obati dengan sendiri mengadu kepada Ilahi...
Digerak bathin, ku tersadar...
Aku masih bisa menghirup udara pagi....

Masih dalam kungkungan sejuknya fajar...
Tak ada rekahan cahaya pagi ini....
Langit ku kelabu....
Karna langit masih membiarkan hujan membasahi pagi tak bertuan....
Dan kali ini... aku harus peduli....

Jogja, 28 Februari 2011




Masih dengan hujan pagi ini...
Tak tahu, apakah ini hanya sebuah kebetulan atau telah direncanakan Tuhan sebelumnya...
Langit masih hujan pagi ini...
Dan aku masih menunggu rindu itu merekah...
Aku masih termangu pada embun yang menetes...
Aku masih juga masih berdesah pada pagi yang tak bertuan...
Kiranya hati masih biru dalam balutan kehampaan...

Dalam semua kisah hidup...
Senantiasa ada pelajaran dalam rekaman waktu...
Pecahan-pecahan kaca itu sempat melukai...
dan ku obati dengan sendiri mengadu kepada Ilahi...
Digerak bathin, ku tersadar...
Aku masih bisa menghirup udara pagi....

Masih dalam kungkungan sejuknya fajar...
Tak ada rekahan cahaya pagi ini....
Langit ku kelabu....
Karna langit masih membiarkan hujan membasahi pagi tak bertuan....
Dan kali ini... aku harus peduli....

Jogja, 28 Februari 2011
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!